Agus Kembali Bekerja, Meski Kehilangan Satu Tangannya

Agus Prabowo (20), karyawan kontrak PT Grafitecindo Ciptaprima (Grafitec) Cikarang, yang bertugas sebagai operator mesin pengepakan mengalami kecelakaan kerja pada awal tahun 2014 yang mengakibatkan kehilangan tangan kanannya. Peristiwa naas itu, terjadi ketika Agus sedang bekerja dengan mesin pengepakan (Pressing), secara tidak sengaja tangan kanan Agus terjepit didalam mesin tersebut sehingga menyebabkan tangan kanan nya remuk dan jari kelingking hampir putus. Sesuai dengan arahan tim medis tangan kanan Agus disarankan agar diamputasi untuk menghindari keadaan yang lebih buruk lagi. Peristiwa tersebut membuat Agus mengalami trauma, minder dan kekhawatiran terkait masa depannya.

Mengetahui hal tersebut, pihak Grafitec langsung membawa Agus ke RS Trauma Center didampingi oleh BPJS Ketenagakerjaan dalam hal ini Manajer Kasus Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja (KK PAK) Kacab Cikarang. Agus mendapatkan perlindungan kuratif melalui program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK).

 

 

BPJS Ketenagakerjaan Kacab Cikarang mengikutsertakan Agus dalam program Return To Work (RTW) dengan persetujuan Grafitec. Manajer Kasus KK PAK Cikarang secara rutin mendorong proses rehabilitatif Agus untuk mengembalikan kemampuan fisik dan mentalnya. Manajer Kasus KK PAK Cikarang memberikan motivasi dan bimbingan pada Agus, untuk terus melatih tangan kirinya agar tetap bisa beraktifitas sebagaimana mestinya.

Setelah 3 (tiga) bulan proses rehabilitatif, Agus kembali bekerja di Grafitec dengan posisi yang berbeda, yaitu sebagai staf bagian administrasi HRD. Manajemen Grafitec kemudian sepakat mengangkat Agus sebagai karyawan tetap. BPJS Ketenagakerjaan melalui Manajer Kasus KK PAK Cikarang terus berusaha meningkatkan kompetensi Agus dengan memberikan pelatihan khusus dalam bidang ketrampilan administrasi komputer. Diharapkan dengan keahlian barunya, Agus dapat meningkatkan kinerjanya dan dapat meraih masa depan yang lebih baik di tempat kerjanya.

Dukungan Grafitec terhadap Agus merupakan salah satu contoh teladan di Indonesia dalam kasus penanganan kecelakaan kerja. Grafitec memperlakukan Agus sama seperti karyawan lain, yaitu sebagai aset perusahaan.

Kasus diatas merupakan salah satu contoh pelaksanaan program Jaminan Kecelakaan Kerja - Return To Work (JKK-RTW). Program JKK-RTW ini berdasarkan pada Undang-undang (UU) No 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat dan UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan telah menyatakan bahwa tenaga kerja penyandang cacat berhak memperoleh kesamaan kesempatan dalam mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak seperti warga negara Indonesia lainnya.

BPJS Ketenagakerjaan meluncurkan program Jaminan Kecelakaan Kerja - Return To Work (JKK-RTW), sebagai bentuk pelayanan kepada pekerja yang mengalami cacat akibat kecelakaan kerja. Pelayanan tersebut berupa pendampingan ke Rumah Sakit Trauma Center hingga pembekalan mental dan keterampilan sehingga mereka bisa bekerja kembali di perusahaannya dan tidak terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena ketidakmampuan bekerja.

Program ini terlaksana sejak tahun 2014 dengan jumlah kasus yang telah ditangani sampai dengan bulan Maret 2015 sebanyak 38 kasus. Pada tahun 2014 kasus JKK mencapai 105.383 dengan Cacat Fungsi sebanyak 3.618 kasus, Cacat Sebagian sebanyak 2.616 kasus, Cacat Total sebanyak 43 kasus, dan meninggal sebanyak 2.375 kasus.

Pengobatan dan perawatan kesehatan untuk program JKK-RTW ini dapat dilakukan di Rumah Sakit Trauma Center yang ditunjuk oleh BPJS Ketenagakerjaan sebagai pusat pelayanan kesehatan dan rehabilitasi bagi peserta yang mengalami kecelakaan kerja. Hingga Maret 2015, BPJS Ketenagakerjaan sudah bekerjasama dengan 1.300 RS/Klinik Trauma Center milik pemerintah maupun swasta yang tersebar di seluruh Indonesia.

Alur pelayanan Return To Work dimulai saat peserta yang mengalami kecelakaan kerja, mendapatkan penanganan kuratif di RS Trauma Center melalui Manajer Kasus Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja (KK PAK). Apabila peserta dinyatakan cacat maka terdapat proses rehabilitasi di mana pihak perusahaan dan peserta yang mengalami cacat memberikan persetujuan secara tertulis. Selanjutnya Manajer Kasus KK PAK akan mendampingi peserta dalam proses Return to Work. Manajer Kasus KK PAK ini nantinya memantau pengobatan dan perawatan yang tepat dan efektif bagi pasien serta memfasilitasi percepatan proses pemulihan/rehabilitasi. Setelah pengobatan dan rehabilitasi tuntas, Manajer Kasus KK PAK memberikan pelatihan pasca kecacatan dan motivasi kepada peserta yang bertujuan untuk memastikan peserta dapat bekerja kembali secara normal. Apabila upaya-upaya tersebut telah dilakukan namun tidak memungkinkan bagi peserta yang bersangkutan untuk kembali bekerja pada posisi yang sama sebelum mengalami kecelakaan, Manajer Kasus KK PAK akan mencarikan solusi lain dengan cara memberikan pelatihan dan keterampilan khusus yang sesuai agar peserta dapat bekerja di unit kerja atau bidang lain pada perusahaan yang sama.

Dalam hal ini Manajer Kasus KK PAK berperan sebagai "Jembatan" bagi Tenaga Kerja, pihak medis, manajemen perusahaan, serikat pekerja dan balai pelatihan kerja.

Manajer Kasus KK PAK BPJS Ketenagakerjaan telah dilatih oleh Natonal Institute of Disability Management and Research (NIDMAR) melalui program Certified Disability Management Program yang diakui secara internasional. Secara institusi mereka akan ditempatkan di 11 kantor cabang di seluruh Indonesia.

Manfaat program Return To Work lainnya yaitu pemberian bantuan social beasiswa kepada anak Tenaga Kerja yang mengalami cacat total dan Jaminan Kecelakaan Kerja meninggal sebesar Rp 12.000.000,- (dua belas juta rupiah). Manfaat ini mengacu pada UU No. 4 Tahun 1997 tentang penyandang cacat.

JKK-RTW merupakan salah satu program unggulan yang telah dipersiapkan dalam menyongsong BPJS Ketenagakerjaan beroperasi penuh pada 1 Juli 2015, untuk menjadi Jembatan Menuju Kesejahteraan Pekerja.