3,2 Juta Pekerja di Jabar Terdaftar Bpjs Ketenagakerjaan

Posted: 17 hari lalu

Antarajabar.com - Sekitar 3,2 juta pekerja dari sektor penerima upah (PU) dan bukan penerima upah (BPU) di Jawa Barat telah terdaftar sebagai peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.

Deputi Direktur BPJS Ketenagakerjaan wilayah Jawa Barat Kuswahyudi mengatakan jumlah tersebut masih terbilang rendah jika dibandingkan dengan potensi yang ada yang berjumlah 19 juta orang.

"Jawa Barat memiki potensi besar, jumlah pekerja banyak. Ini yang membuat BPJS-TK harus solid. Banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan," kata Kuswahyudi di Kantor Wilayah BPJS-TK, Kota Bandung, Senin.

Ia merinci, angka partisipasi kepesertaan sektor PU yang terdiri atas pekerja industri, PNS, dan TNI/Polri tercatat sekitar 3 juta orang dari potensi sekitar 7 juta orang. Dari angka tersebut didominasi oleh pekerja di perusahaan terutama perusahaan yang telah lama berdiri.

"Ada juga pekerja yang mendaftar di luar Kanwil Jabar tapi kerja di Jabar, jumlahnya 2,7 juta orang. Jadi jika disatukan maka pekerja di Jabar yang terdaftar berjumlah sekitar 5,7 juta lebih," katanya.

Sementara itu, untuk sektor bukan penerima upah (BPU), dari total jumlah pendaftar keseluruhan 3,2 juta orang hanya 149.192 peserta yang terdaftar. Padahal potensi yang ada mencapai 10 juta orang.

Rendahnya partisipasi masyarakat terhadap BPJS-TK ini, menurutnya, disebabkan belum meratanya informasi yang mereka peroleh. Sehingga mereka menganggap keikutsertaan BPJS-TK hanya sebatas beban bukan sebagai kebutuhan jaminan keselamatan kerja.

"Terus mereka lebih mengenal BPJS Kesehatan dibanding BPJS Ketenagakerjaan, padahal beda," katanya.

Untuk meningkatkan partisipasi, BPJS akan menggandeng pemerintah daerah, instansi swasta, serta kejaksaan untuk mendorong masyarakat dan perusahaan agar mendaftarkan pekerjanya sebagai peserta.

Dengan adanya dorongan dari pemerintah serta pihak terkait, ia meyakini sosialiasi akan lebih efektif untuk menjaring kepesertaan baru. Hal ini semata-mata untuk melindungi mereka dari hal-hal yang tidak diinginkan saat bekerja.

"Kalau serentak edukasi massif mungkin lebih ringan (menarik kepesertaan)," katanya.

Editor: Sapto HP