Iuran Pensiun BPJS Ketenagakerjaan Harus Dinaikkan, Ini Alasannya

Posted: 8 bulan lalu

BPJS Ketenagakerjaan berencana menaikkan Iuran pensiun dalam beberapa tahun ke depan dari sebelumnya 3% menjadi sekitar 5%-6%. Iuran tersebut akan diambil dari gaji karyawan dan pemberi kerja.

Namun demikian, BPJS masih mengkaji besaran pungutan yang akan dibebankan ke peserta. Jika sebelumnya 3% tersebut terbagi dalam 1% dibayarkan pekerja dan 2% dibayarkan pemberi kerja. Maka, untuk iuran baru 5-6% ini belum ditentukan skema presentasenya.

"Itu harus dihitung betul, tapi memang kalau nggak dinaikkan berat nanti ke depannya," kata Ketua Dewan Pengawas Guntur Witjaksono, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta Selatan, Senin (9/1/2017).

Naiknya iuran tersebut dilakukan untuk menjamin keberlangsungan jaminan sosial dalam jangka panjang. Hal itu karena dengan adanya ledakan penduduk atau yang biasa dikenal dengan bonus demografi saat ini, bakal meningkatkan jumlah penduduk tua di masa depan.

Bila iuran tidak dinaikkan. Dikhawatirkan dana yang saat ini terkumpul tidak dapat memenuhi kebutuhan biaya jaminan sosial di masa mendatang.

"Itu yang dikhawatirkan. Dimana-mana negeri maju pun yang muda harus subsidi yang tua," kata Guntur.

Ia mengatakan, kenaikan iuran ini dievaluasi setiap setiap 3 tahun. Diperkirakan kenaikan iuran ini jika dilihat dari masa berlakunya, maka akan berlaku tahun 2018.

"Tidak harus tahun ini tapi 3 tahun, ini kan baru dikaji dulu tahun ini berapa besar, kalau dilihat tahunnya kan mulai setahun yang lalu jadi masih ada 2018, tahun depan," imbuhnya.

Ia menyebut walaupun iuran tersebut nantinya dinaikkan, tidak akan mengurangi jumlah peserta. Hal itu karena tingkat kesadaran masyarakat terhadap jaminan hari pensiun meningkat.

"Dalam setahun pesertanya sudah 8,9 juta loh, suatu yang cepat sekali. Cepat sekali, jadi awareness-nya orang menabung tinggi juga dan pengembangan menarik," imbuhnya.